Ada empat tumpukan kitab barzanji di satu sudut.
Ada empat biduan di satu sudut lain.
Upacara penamaan anak yang bagus
Tapi ganjil
Ada orgen tunggal plus dugem sampai fajar
Ada yang mengaji kalam ilahi.
Ada pula tawa ngakak dari bibir yang bergincu.
Untuk yang tak terkatakan di dunia nyata. Ungkapkan di sini!
Aku adalah sarjana teknik
Tapi tidak berhasil tempatkan passion
Aku bukan seorang wartawan
Tapi pekerjaanku sering nanya-nanya orang.
Aku bukan seorang penulis
Tapi hobiku buat ide-ide tulisan.
Tak perlu kerangka karangan,
Asalkan cukul asulan energi.
Tulisan panjang siap aku alirkan.
Aku bukan lulusan desain grafis
Tapi aku sangat mencintai grafis
Aku bukan seniman kartun
Tapi passion ku begitu membuncah
Dengan komik, kartun, animasi
Jadi siapa aku?
Agak kejam juga judul headline sebuah surat kabar lokal di atas. Rumah Sakit siap-siap terima caleg "stress". Pertanyaan langsung menggelitik, sebegitukah?
Benarkah akan banyak calon legislatif yang bakal stres jika tidak terpilih nanti? Setipis itukah pertahanan iman dan kejiwaan menghadapi keadaan sulit seandainya 'kalah' nanti?
Pertanyaan ini sebetulnya tak terlalu istimewa. Karena bagaimana pun, setiap keputusan berani punya konsekuensi yang besar pula. Termasuk ketika seseorang memutuskan untuk terjun dalam kompetisi merebut kursi panas sebagai wakil rakyat.
Modal Rp500 juta untuk kelas caleg kab/ kota mungkin belumlah cukup untuk dibakar menjadi penggerak sosialisasi. Sebagai contoh di komplek kami, ada dua calon yang berusaha menarik simpati. Satu calon dari Provinsi. Satu calon dari Kabupaten.
Demi menarik simpati suara - apalagi suara masyarakat menjelang pemilu berharga sangat tinggi, maka tak heran jika untuk niat tersebut kedua caleg tersebut menggelontorkan dana sosialisasi cukup besar. HANYA UNTUK KOMPLEKS KAMI SAJA, masing-masing menggelontorkan bantuan berupa timbunan tanah furu sebanyak 9 truk plus satu gorong-gorong. Sedangkan calon dari Tingkat Provinsi menyumbang pengecoran jalan kompleks sepanjang 210 m. Dengan lebar 3,5 meter.
Jika ditotal masing-masing Rp4 juta dan Rp10 juta. Sedangkan daerah pemilihan bisa dua kecamatan (bukan dua kompleks) untuk caleg kabupaten. Dan tiga Kabupaten/ kota untuk Caleg Provinsi.
Jadi bisa dibayangkan jika untuk satu kompleks/ daerah pemukiman saja habis Rp15 juta. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk dua kecamatan, yang notabene bisa terdiri dari puluhan kompleks/ pemukiman.
Ratusan juta hingga milyaran rupiah siap-siap mengucur deras membolongi pundi-pundi kekayaan sang caleg.
Pertanyaannya, dari mana uang mereka? Dan mengapa mereka sangat ingin menarik simpati masyarakat agar terpilih?
Sudah sangat pasti dan sangat klise jika menyebut hanya untuk mengabdi.
Tujuannya tentu saja adalah untuk MENANG. Dan tugas pertama adalah mengembalikan modal atau melunasi hutang. Yang kedua, melunasi hutang budi kepada 'pemegang saham' yang rela membantu sebagai tim sukses, tapi tak mau dibayar tunai.
Tahu sendirilah. Hutang budi dibawa mati. Bahkan sepanjang masa jabatan, hutang itu tak kan pernah lunas.
Jadi kapan waktu untuk konstituen yang menitipkan suara dan mengantarkannya ke parlemen? Auk ah, Mungkin lima tahun mendatang pas mau nyalon lagi. Syukur-syukur dapat prioritas.
Kan musti siaga, liat-liat peluang yang bisa dijadikan proyek..
Nah, kalo tidak terpilih, sudah dapat dipastikan akan stress berat!! Yuk sama-sama berdoa, negara tetap aman, para kontestan caleg tetap waras dan sehat. Karena inilah pembelajaran demokrasi. Walaupun katanya berbiaya mahal.
Kasus 'Ustadz' Hariri, kembali mencoreng kehidupan berbangsa. Semua tercengang, kaget dan tidak percaya dengan peristiwa yang mencuat dan menyebar melalui layanan video daring Youtube tersebut.
Belum lagi kicauan seorang artis Cinta Penelope yang semakin menyudutkan Hariri. Bagaimana mungkin seorang ustadz hendak mencium artis yang notabene bukan mahramnya? Duh gusti semoga ini salah berita.. karena ini hanya pengakuan. Belum pula terdengar klarifikasi dari Hariri.
Ada yang salah, jika seorang pendakwah macam 'Ustadz' Hariri terlibat aksi tak simpatik dan tak bermotal. Pasti ada yang salah.
Jelas. Tak mungkin seorang Ustadz akan berkilah bahwa itu adalah kehidupan pribadinya. Karena seorang Ustadz akan menjadi contoh, mulai dari kehidupan pribadinya hingga yang tampak ke publik. Jika iya demikian, maka kemunafikan lah yang sedang kita tonton ini.
Pasti ada yang salah dengan ibadah kita. Jika perbuatan tak seiring dengan ucapan kebaikan yang meluncur dari bibir. Jika ahlak tak seindah pelajaran ahlakul karimah yang dikhotbahkan di atas mimbar.
Sungguh, peristiwa ini tidak untuk semakin menenggelamkan karakter Hariri. Tapi hendaknya menjadi contoh bagi kita semua, bahwa apapun ibadah yang kita lakukan hendaknya ada penghayatan di dalamnya. Jangan sampai hanya menjadi sekedar gugur kewajiban, pas bandrol atau ibadah prosedural semata.
Hanya terpenuhi rukun dan syarat saja, tapi lupa menghadirkan segenap jiwa di dalamnya.
Wallahualan
Betapa mudah berprasangka.
Apalagi di sosial media.
Jangankan buruk sangka
Salah ketik pun bisa tersinggung.
Akibat salah interpretasi.
Beda pandangan jarang disikap bijak
Logika kalah oleh Emosi berlebih
Pantang kalah oleh lawan
Walau pendapat tak terlalu mutu
Betapa mudah berprasangka
Hanya karena berbeda mazhab
Padahal Imam tunjukkan ahlak
Selisih pendapat adalah rahmat
Hatiku selalu teriris.
Saat harus berjumpa dengan teman lama.
Teman SD
Teman SMP
Teman SMA
Teman Kuliah...
Bukan pertemuan yang aku sesali
Namun atribut duniawi yang ikut mengiring.
Gengsi pekerjaan
Gengai gadget
Gengsi kendaraan
Aih,
Terbenam mukaku
Dibelit benci
Dihajar iri.
Tuhan, ini menyiksaku
Tapi aku tak mau jadi pecundang
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact