Tuesday, February 18, 2014

Rumah Sakit siap-siap terima Caleg Stres

Agak kejam juga judul headline sebuah surat kabar lokal di atas. Rumah Sakit siap-siap terima caleg "stress". Pertanyaan langsung menggelitik, sebegitukah?

Benarkah akan banyak calon legislatif yang bakal stres jika tidak terpilih nanti? Setipis itukah pertahanan iman dan kejiwaan menghadapi keadaan sulit seandainya 'kalah' nanti?

Pertanyaan ini sebetulnya tak terlalu istimewa. Karena bagaimana pun, setiap keputusan berani punya konsekuensi yang besar pula. Termasuk ketika seseorang memutuskan untuk terjun dalam kompetisi merebut kursi panas sebagai wakil rakyat.

Modal Rp500 juta untuk kelas caleg kab/ kota mungkin belumlah cukup untuk dibakar menjadi penggerak sosialisasi. Sebagai contoh di komplek kami, ada dua calon yang berusaha menarik simpati. Satu calon dari Provinsi. Satu calon dari Kabupaten.

Demi menarik simpati suara - apalagi suara masyarakat menjelang pemilu berharga sangat tinggi, maka tak heran jika untuk niat tersebut kedua caleg tersebut menggelontorkan dana sosialisasi cukup besar. HANYA UNTUK KOMPLEKS KAMI SAJA, masing-masing menggelontorkan bantuan berupa timbunan tanah furu sebanyak 9 truk plus satu gorong-gorong. Sedangkan calon dari Tingkat Provinsi menyumbang pengecoran jalan kompleks sepanjang 210 m. Dengan lebar 3,5 meter.

Jika ditotal masing-masing Rp4 juta dan Rp10 juta. Sedangkan daerah pemilihan bisa dua kecamatan (bukan dua kompleks) untuk caleg kabupaten. Dan tiga Kabupaten/ kota untuk Caleg Provinsi.

Jadi bisa dibayangkan jika untuk satu kompleks/ daerah pemukiman saja habis Rp15 juta. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk dua kecamatan, yang notabene bisa terdiri dari puluhan kompleks/ pemukiman.

Ratusan juta hingga milyaran rupiah siap-siap mengucur deras membolongi pundi-pundi kekayaan sang caleg.

Pertanyaannya, dari mana uang mereka? Dan mengapa mereka sangat ingin menarik simpati masyarakat agar terpilih? 

Sudah sangat pasti dan sangat klise jika menyebut hanya untuk mengabdi.

Tujuannya tentu saja adalah untuk MENANG. Dan tugas pertama adalah mengembalikan modal atau melunasi hutang. Yang kedua, melunasi hutang budi kepada 'pemegang saham' yang rela membantu sebagai tim sukses, tapi tak mau dibayar tunai.

Tahu sendirilah. Hutang budi dibawa mati. Bahkan sepanjang masa jabatan, hutang itu tak kan pernah lunas.

Jadi kapan waktu untuk konstituen yang menitipkan suara dan mengantarkannya ke parlemen? Auk ah, Mungkin lima tahun mendatang pas mau nyalon lagi. Syukur-syukur dapat prioritas.

Kan musti siaga, liat-liat peluang yang bisa dijadikan proyek..

Nah, kalo tidak terpilih, sudah dapat dipastikan akan stress berat!! Yuk sama-sama berdoa, negara tetap aman, para kontestan caleg tetap waras dan sehat. Karena inilah pembelajaran demokrasi. Walaupun katanya berbiaya mahal.

0 comments:

Post a Comment

 
;